Rorry temanku selalu menangis sampai menjerit-jerit saat tengah malam. Anehnya keesokan hari dia tidak ingat apapun. Namun, bila malam tiba ia kembali bertingkah aneh layaknya orang kerasukan.
Kami tinggal bersebelahan jadi segala tentang lelaki berambut pirang itu cukup ku ketahui. Kami bersekolah di tempat dan kelas yang sama. Sebentar lagi masa-masa SMP akan segera usai. Tetapi Rorry justru mulai dijauhi banyak orang karena tingkahnya yang semakin aneh.
"Hey, tentu aku tidak akan menjauhimu seperti yang lain. Berhentilah menyamakanku dengan mereka" ucapku meyakinkan bahwa aku adalah sosok teman baik yang sesungguhnya.
Ia tersenyum simpul. Aku tahu ada beban kesedihan di benaknya. Bukan salahnya melainkan sesuatu yang aneh telah membuat Rorry berubah aneh. Sehingga dijauhi teman-teman dengan alasan takut.
"Rorry mungkin mengalami halusinasi tingkat tinggi, itulah mengapa ia bertingkah lain dari biasanya" ujar Bibi Angela sembari menaburkan pelet ikan ke atas permukaan air aquarium berisi ikan hias.
Aku lantas merenung begitu mendengar penjelasannya mengenai Rorry.
"Terutama saat malam, dimana langit sudah gelap gangguan seperti itu besar kemungkinan menjangkit pikirannya" lanjutnya lagi.
Bibiku itu memang sudah lama tinggal serumah denganku. Ia telah bercerai dengan suaminya.
"Aku tidak mengerti, aku cuma kasihan pada Rorry. Semua teman di sekolah menganggap dia sebagai anak yang dihinggapi iblis"
Belum lama berkata demikian, suara jeritan terdengar dari rumah Rorry. Tepatnya di dalam kamarnya.
"Oh, astaga! Lagi-lagi dia begitu" kata ibuku sambil setengah berlari menuju jendela.
Aku semakin penasaran mengapa Rorry jadi seperti itu. Pasti ada sesuatu di baliknya. Mungkin aku harus mencoba supaya Rorry mampu mengingat kejadian demi kejadian saat malam sebelum ia tidur. Apakah karena hantu? Tetapi, tentu ia akan mengingatnya karena Rorry tidak gila.
Dengan tergesa-gesa aku pun datang menemui Rorry. Pukul sepuluh malam begini, jika ibu tahu pasti akan marah. Tapi aku lakukan ini demi kebaikan temanku.
Lewat jalan rahasia aku berhasil menuju halaman belakang rumah Rorry. Di atas terdapat balkon kamarnya. Dan cukup menaiki tangga kecil aku bisa masuk ke dalamnya.
"Hey, Rorry! Bangunlah!"
Aku berbisik pelan ke telinganya. Beberapa saat kemudian ia pun terbangun. Seraya menggosok kedua mata dia lantas menyadari aku tengah berada di ruangan pribadinya itu.
"Mau apa kau kesini? Kita bisa dapat masalah" ucapnya pelan.
"Rorry, aku tahu apa yang kau rasakan. Tetapi bisakah kau mengingat kejadian beberapa menit lalu?"
Ia malah mengerutkan dahi. Dugaanku ternyata benar. Dia tidak ingat sama sekali saat dirinya menangis seperti orang kerasukan.
"Ya sudah, aku faham. Aku pergi dulu maaf sudah mengganggu tidurmu, kawan"
Sambil mengendap-endap aku hendak menuruni tangga. Namun, Rorry berlari ke arahku dengan raut wajah ketakutan.
"Joe, tolong aku. Mereka mendatangiku lagi!"
"Hah? Mereka siapa?"
Tangannya mencengkram kerah piyamaku. Kemudian berbicara pelan seakan sebuah rahasia besar akan ia bongkar.
"Ada banyak sekali bayangan hitam dengan sorot mata yang menyala, Joe. Mereka melayang dan menakutiku setiap malam. Mereka seperti ingin menyakitiku. Aku takut sekali Joe. Tolong aku!"
Pada akhirnya ia kembali menangis, menjerit dan meronta seperti hendak diserang sesuatu. Sementara aku mengaku telah menyusup ke kamarnya dengan alasan ingin menolong. Jelas saja aku kena marah. Dan Rorry mendapat perawatan medis akibat luka memar di sekujur tubuh. Penyebabnya belum diketahui. Bahkan luka-luka memar tersebut muncul sesudah ia terkulai lemas selepas menjerit-jerit.
*
Keesokan harinya.
Aku mendengar kabar bahwa keluarga Rorry akan pindah. Meski menyakitkan karena tak dapat lagi berdekatan. Namun, aku senang sebab Rorry akhirnya berhenti bertingkah aneh saat malam. Dia juga sering memberiku kabar lewat telpon. Kami tetap berkomunikasi meski di tengah jauhnya jarak rumah.
Dugaan Bibi Angela benar. Teman dekatku itu terkena halusinasi tingkat tinggi. Pemicunya bisa jadi karena rasa lelah atau kekurangan energi. Sedangkan luka memarnya akibat anemia.
Akan tetapi, Rorry tidak berbohong soal ucapannya. Mengenai bayangan-bayangan gelap di kamarnya. Semenjak ia pindah, aku mulai melihat keberadaan mereka di sana. Membuatku cemas sebab bayangan-bayangan tersebut semakin hari semakin banyak.
Dan..
Semakin mendekati kamarku.
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

