Liburan akhir tahun kali ini aku bingung mau pergi kemana. Sebab semuanya terasa membosankan. Menyusuri area pegunungan, meski nuansanya berbeda tetapi rasanya akan sama. Monoton. Berlabuh ke pantai pun demikian. Ke hutan atau pedesaan? Sudah kulakukan tahun kemarin bersama dua temanku.
"Aku ingin pergi ke desa lama kita, bagaimana?" tanya Himawari adik perempuanku. Rupanya ia masih ingat lingkungan lama itu.
Aku termenung, memikirkan apakah ucapan Himawari merupakan ide yang tepat. Bukan tanpa alasan mengapa aku bisa kebingungan. Beberapa kali adikku meminta agar kami dapat berkunjung ke sana. Untuk sekedar mengenang alias nostalgia katanya. Tapi, ada alasan mengapa aku belum pernah ke sana lagi sejak kepindahanku duabelas tahun yang lalu. Terdapat satu kejadian yang menjadi kenangan buruk dalam sejarah hidupku.
"Ayolah! Kita kan bisa mengajak Kak Sayaka pacar Kakak!" lanjutnya lagi. Membuatku semakin bingung.
"Kumohon..!" rengeknya seperti bocah ingusan.
"Apa Kakak tidak kangen ya sama Nenek?"
Kali ini perkataan Himawari sanggup memecah rasa bimbangku. Benar juga apa katanya. Nenekku masih setia berdiam di desa aneh itu. Meski dibujuk ratusan kali pun dia tetap menolak pindah. Sungguh tak habis dipikir, bagaimana bisa beliau mampu bertahan di sana. Orang tua memang sulit dimengerti oleh anak jaman sekarang.
"Baiklah, besok kita berangkat. Siapkan segalanya sendiri ya! Jangan merepotkan" ujarku membuat Himawari girang bukan main.
"Yuhuu..!!!"
Gadis berkepang dua itu melompat-lompat. Kenapa sih dia bisa terpikirkan untuk pergi berlibur ke desa lama kami. Mengejutkan sekali.
*
Esok hari pun tiba. Cuaca mendukung rupanya. Sementara itu dari kejauhan Sayaka tampak melambaikan tangannya sembari menggendong ransel merah. Himawari menyambut kedatangannya dengan gembira seperti biasa. Mereka memang akrab, menyenangkan sih tapi kadang-kadang bisa kompak menyebalkan.
"Aduh.. Ayo donk berangkat, sudah semakin siang nih!" celetuk Himawari dari kursi belakang mobil.
"Berisik ah!" jawabku ketus. Sayaka cuma tertawa menanggapi relasi kakak-beradik di hadapannya.
"Jadi, kita mau ke desa lamamu ya?"
"Begitulah!"
Kemudian mobil pun melaju menuju desa yang bernama Ankyomura itu. Dan selama di perjalanan aku banyak diam. Terpikirkan soal sesuatu yang membuatku malas ke sana. Hal yang juga mendasari mengapa aku pindah dahulu.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya kami tiba. Saat turun dari mobil, entah kenapa suasana terasa lain. Namun ku paksakan saja untuk masuk, menghargai perasaan Himawari. Begitu usul Sayaka.
"Indah ya, semuanya masih hijau dan banyak burung" ucap adikku kesenangan.
"Eh, lihat! Sungai itu cantik sekali. Airnya jernih membuatku ingin bermain di sana"
Saat adikku menunjukan sebuah sungai. Tiba-tiba aku memarahinya. Seperti orang yang hilang kendali saja, tapi tetap ku lakukan.
"Jangan! Kau tidak boleh ke sana! Bisa tidak kau berhenti memandangi sekitar!" begitu ucapku. Himawari pun tertunduk. Dari samping, Sayaka mulai bereaksi. Kini dia yang balik memarahiku.
"Kau ini, apa susahnya bersikap manis pada Himawari. Bagaimana pun juga adikmu kan punya kenangan di tempat ini. Jadi tolong mengerti!"
Akhirnya aku mengalah. Menyadari bahwa sikapku memang berlebihan. Tentu saja tujuan datang ke sini adalah untuk berlibur melepas penat. Dengan memandangi ke asrian alam merupakan cara terbaik.
"Hima, maafkan aku ya! Aku cuma tidak mau kau membahas sungai itu lagi!"
"Memangnya, ada apa dengan sungai itu?" tanyanya membuatku tersenyum getir.
"Bukan apa-apa, kita percepat langkah. Mari kejutkan Nenek dengan kehadiran kita!"
Aku berujar demikian sebagai pengalihan bahasan. Tidak mungkin aku ceritakan padanya. Tentang kejadian pada sungai yang mengalir melewati gorong-gorong itu. Gorong-gorong gelap yang mengerikan.
*
Aku berjalan bersama dua temanku, Ekita dan Kaneru. Sambil bersenandung ria, kami melalui hari itu dengan kegembiraan. Langit cerah dengan beberapa awan putih menggantung. Melengkapi keseruan dalam bermain.
"Gerah sekali, ayo kita bermain air di sungai!" ujarku memberi ajakan pada Ekita dan Kaneru.
Tanpa basa-basi lagi kami silih berlari menuju satu-satunya sungai di desa yang mengalir jernih seperti dari surga. Begitu sampai tujuan.
BYUR!!!
Segar tiada tara. Cipratan air terbang ke segala arah. Bermain lepas seperti tidak ada beban merupakan hal termahal dalam hidup manusia. Masa kecil memang menyenangkan.
"Aku mau ke sana ah!"
Aku lantas berjalan menerjang aliran sungai untuk masuk ke dalam gorong-gorong yang panjangnya hampir sepuluh kali lipat tubuhku. Lalu temanku pun ikut masuk menyusul diriku. Suara air lebih jelas di dalam sini. Hanya saja lumayan gelap, semakin ke tengah bisa semakin gelap. Tetapi, ada yang aneh. Di ujung gorong-gorong ini tidak nampak adanya celah seperti jalan masuk yang dilalui kami. Kami bertiga pun merangkak, mencoba mencari ujungnya. Tiba-tiba, Ekita dan Kaneru berteriak seperti kesakitan. Sontak membuatku panik ketakutan.
"Kalian dimana...?"
"Ekita...!!"
"Kaneru..!!"
Aku berteriak tidak peduli seberapa kencangnya suaraku menggema. Sambil terus merangkak aku coba keluar dari dalam gorong-gorong ini. Diiringi tangis dan juga rasa takut.
*
"Tidaaaak...!"
Tengah malam yang sunyi. Aku terbangun sambil berteriak. Sayaka dan juga Himawari pun turut terbangun. Mereka mendekatiku, tak lama Nenek juga ikut masuk ke dalam kamar.
"Kau bermimpi buruk? Aduh.. Aku kaget tau!" ujar Himawari. Sementara Nenek memberiku segelas air putih.
Ternyata itu semua mimpi. Mimpi buruk yang tidak ku harapkan hadir dalam tidur lelapku. Gara-gara mampir kesini, kenangan buruk tersebut kembali dapat ku rasakan.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk pulang. Meski Himawari kecewa begitupula Nenek, namun aku tidak mau lebih lama lagi. Cukup kali ini aku bernostalgia di desa lamaku untuk pertama dan terakhir.
Selama di perjalanan pulang aku tidak berkata sepatah kata apapun. Hanya bayangan mengerikan saat kedua temanku lenyap bagai ditelan gorong-gorong sialan itu. Peristiwa yang selalu aku harap sebagai khayalan semata. Namun kenyataannya bukan.
Seminggu kemudian pasca berlibur dari desa lamaku. Berita di TV menyiarkan penemuan dua jasad anak kecil berusia sembilan tahun tersangkut di dalam gorong-gorong. Keduanya sudah berbentuk kerangka. Kejadian menggegerkan tersebut bertempat di sungai Aokawa, Desa Ankyomura.
"Kedua anak malang ini diduga tewas akibat terbawa hanyut arus sungai"
Begitu kiranya laporan seorang reporter perempuan yang memandu acara berita dari tempat kejadian perkara.
Padahal yang terjadi adalah bukan seperti yang diucapkan si reporter. Tetapi dua bocah itu tewas karena tersesat di dalam kegelapan. Tertelan menuju lembah kematian dalam gorong-gorong sungai.
"Syukurlah, setelah bertahun-tahun lamanya tubuh kalian dapat ditemukan"
"Maafkan aku ya, Ekita! Kaneru!"
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Segera ku matikan TV lantas bergegas menuju tempat bekerja.
"Ku harap, kalian berdua masih mau menemaniku.."
"..Minggu depan ayo kita pergi ke pantai saja. Bagaimana? Ekita! Kaneru!"
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar